Lelaki itu tetap setia duduk di tempatnya, menunggu lewatnya mobil mulai yang kecil sampai yang besar, dari yang reot sampai yang mewah. Setiap mobil datang, lelaki itu mengulurkan tangannya untuk memberikan kartu masuk, sambil berucap “selamat pagi”. Kadang senyuman balik didapat, tapi tidak jarang hanya uluran tangan supir saja yang mampir. Lelaki itu tidak lain adalah seorang penjaga tol.
Suatu saat penjaga tol itu berobat ke dokter, selesai pemeriksaan sang dokter berbincang dengan sang pasien penjaga tol,
” Pak, enggak bosen tuh duduk terus sampai berjam-jam di ruangan kecil itu? Apa Bapak enggak kepingin cari kerjaan lain yang lebih baik?” Tanya dokter
Mendengar pertanyaan itu, sang penjaga tol itu hanya tersenyum sambil menjawab,”Ya bosen Dok, tapi saya sangat menyukai pekerjaan ini
“Saya tidak berfikir untuk berganti ke pekerjaan lain” kata sang pasien
Kenapa enggak Pak? Emang gaji bapak disana besar? Tanya dokter lagi
“ Enggak Dok, gaji enggak seberapa, tapi cukuplah buat menghidupi anak istri”
“ Terus, kenapa nggak mau pindah kerja?” tanya dokter
” Saya merasa hati saya tenang kerja sebagai penjaga tol” jawab pasien
”Lho koq bisa?” sang dokter kebingungan
” Ada hal yang mungkin tidak bisa saya dapatkan di pekerjaan lain” jawab pasien
”Apa itu pak?” tanya dokter penasaran
”Disana setiap harinya saya bertemu dan bertatap muka dengan ribuan orang setiap harinya, Setiap saya memberikan kartu masuk tol, saya berdoa ” Ya Allah, sampaikanlah bapak/ibu/orang ini sampai ke tujuannya dengan selamat”
Hal tersebut membuat hati saya tentram, kalau saya tidak bekerja sebagai penjaga tol, mungkin tidak ada yang membuat saya mendoakan orang lain Dok...”
Begitulah sang penjaga tol itu bercerita, suatu hal yang membuatnya betah bekerja, karena dalam pekerjaannya ia merasakan kesempatan yang luar biasa saat bekerja. Bisa dibayangkan, jika dalam 1 menit, 3-4 orang pengendara yang lewat loketnya, maka dalam seharinya ia mendoakan ribuan orang pengendara yang lewat jalan tol itu, dalam 1 minggu puluhan ribu orang yang ia doakan, dan kalau dihitung tahun mungkin sudah jutaan pengendara didoakan penjaga tol itu. Dan kita tidak pernah tau, mungkin ribuan bahkan jutaan orang yang telah diselamatkan Allah karena doa dari seorang penjaga tol itu.
Cerita itu membuat sang dokter merenung, betapa ia yang penghasilannya jauh lebih besar, dihormati setiap pasiennya, mendapatkan senyuman setiap kali pasien datang, tapi sangat pelit dalam hal mendoakan pasien-pasiennya. Ia sering lupa dan menganggap kesembuhan pasien dari kecerdasannya semata, betapa selama ini ia lupa bahwa kesembuhan pasien adalah dari Tuhannya, tapi begitu jarang ia melibatkan Tuhan dalam mengobati pasiennya. Hari itu sang penjaga tol itu benar-benar telah mengajarinya banyak hal yang sangat berarti, yang tak pernah ia dapatkan dari text book sekalipun...
http://www.afiat-sehatwalafiat.blogspot.com





8 komentar:
Oh, gw selalu berdoa pasien-pasien gw sembuh, Fi. Coz kalo dia nggak sembuh, lain kali dia sakit dia nggak akan mau berobat ke gw lagi. :D
:)) 4 jempol lah bwt dr vicky..hehe..
kalau pasien balik lagi gara2 ga sembuh2, repot juga kali yah. :D
@alma: enggak ma, kalo pasien balik lagi gara2 ga sembuh, itu artinya px masih percaya sama dokternya ( kecuali kl ga ada dokter lain di wilayah itu)
yang lbh repot kl px ga sembuh terus mutusin utk pindah ke dokter lain ataw pengobatan lain, kl dokternya ga tau, akan tenang2 aja, tp kl dokternya tau berita pindahnya pasien krn ga sembuh, itu yang menyedihkan dan bikin beban kl suatu saat ketemu px itu lg..
mari kita lestarikan sikap sang penjaga tol....;)
Kasihan tapi penjaga tol itu, gimana engga tiap hari kena paparan asap polusi.Nanti bisa COPD tuh. Yang tanggung jawab harusnya penyelenggara tol nya, kok ga dikasih masker
salam doc, nice article =)
thank's for comment :)
Poskan Komentar