
Waktu menunjukkan pukul 6.30 pagi ketika saya sampai dan mulai menapakkan kaki di lantai 2 RS Cibabat. Segera saja saya menuju ke ruang koass untuk sekedar menyapa kawan yang bertugas jaga malam kemarin. Tiba-tiba saja langkah saya terhenti saat dokter tiba-tiba memanggil saya di selasar jalan menuju tempat yang saya tuju.
“dek, tolong kamu pimpin persalinan Ibu O** di VK (kamar bersalin) dia sudah pembukaan lengkap dari jam 6, sampai sekarang belum keluar juga bayinya, kalau sampai jam 8 nanti belum lahir juga, kamu minta persetujuan sama dia atau keluarganya untuk naik ke meja operasi (sectio caesaria)”,
“Oh..iya dok..” jawab saya.
Segera saja saya membatalkan tujuan semula ke ruang koass, menjadi berbelok kearah kamar bersalin, TKP yang dimaksud, dimana terlihat seorang ibu setengah baya yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya. Saya segera menjumpai ibu tersebut, dan segera saya pakai sarung tangan untuk memeriksa kemajuan anaknya.
“sebentar ya Bu..saya periksa dulu”,
iya dok… jawab sang ibu.
Baru saja kubuka sedikit (labia genital eksterna), saya sudah dapat melihat ubun-ubun anak yang seolah-olah siap untuk keluar menuju dunia barunya. Yah, teman saya yang berada juga disitu, mengatakan kalau si ibu sudah mengalami pecah ketuban sejak beberapa jam yang lalu, dan pembukaannya juga sudah lengkap.
Ok, Bu..kalau nanti terasa mulas perutnya, ibu ngeden ya.. Instruksi dari saya pada sang ibu
“iya dok..”jawab sang ibu.
Sambil menunggu datangnya mulasnya perut si ibu, saya sempat ngobrol sejenak dengan si ibu untuk mencairkan suasana, rupanya ibu itu sudah berusia lebih dari 40 tahun, dan hebatnya anak yang akan dilahirkannya merupakan anaknya yang ke -8! Artinya ibu itu sudah 7 kali melahirkan!
Waktu pun berlalu cepat, sang Ibu dengan sussah payahnya mengedan sekuat tenaga setiap perutnya mulas, namun tak ada kemajuan yang menandakan janinnya akan keluar. Berbagai upaya cara dan metoda mengedan sudah ia lakukan mulai mengedan sambil miring kiri, miring kanan, hingga sambil jongkok, namun lagi –lagi gagal dan akhirnya si Ibu pun tampak kelelahan, napasnya terengah-engah, keringatnya bercucuran, dan mukanya memperlihatkan kesakitan yang amat sangat. Waktu menunjukkan jam 8 pagi, seperti instruksi dokter, saya pun lalu menanyakan si ibu untuk naik meja operasi guna menyelamatkan nyawa bayi dan ibu.
“Bu, sudah ya..di operasi saja”, “ Ibu tinggal tanda tangan saja disini untuk persetujuan” ,
sang Ibu lalu menjawab” enggak dok, saya tunggu suami saja”,katanya seraya menjelaskan bahwa suaminya sedang pulang ke rumah mengurus sesuatu.
“Okelah, kita coba lagi “ kata saya dalam hati..
“Ayo bu..ngeden.. yang kuat..” Ucapan itu berkali-kali keluar dari mulut saya ketika sang ibu mengedan. Tampaknya sang ibu sudah tak kuasa lagi untuk terus berusaha, sehingga setiap mengedan, ia pun merintih kesakitan ”Aaaaahhh... ahh........aduuhhh... aduuhhh...!”hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya sambil sesekali diiringi isak tangis...
Mendengar hal itu berkali-kali, tentu saya jadi kesal,karena si ibu terus saja mengeluh tapi menolak untuk dilakukan operasi. Akhirnya saya katakan pada si ibu,
”Bu.. udah jangan ngeluh aja..” si Ibu pun menjawab” sakiit dok, saya dah abis-abisan...gak kuat lagi..”katanya sambil merintih.
Tiba-tiba saya mendapat ide untuk minta si Ibu untuk mengganti keluhannya dengan doa,
”Bu, daripada ibu ngeluh terus, mendingan ibu berdoa atau berzikir bu”.
Ibu itu ternyata mengikuti saran saya, sehingga ia langsung mengganti rintihannya saat mengedan, menjadi kalimat-kalimat zikir..” astaghfirullah alladziimm...subhanaLlah... ” dan ia pun juga tak lupa untuk berdoa dengan bahasa sunda, ”Ya Gusti Allah.. mudahkanlah hamba...berilah hamba kekuaatann.. ”( yang artinya kira2 begitu setelah diterjemahkan dari bahasa sunda).. waktu pun berlalu, jam menunjukkan pukul 09.00, tetapi tampak belum ada hasil, dan sayapun berkata di dalam hati.
” masa sih Allah gak mengabulkan doa Ibu ini, kan Allah pasti akan mengabulkan doa hamba2nya yang dilakukan dengan penuh harap seperti ibu ini), tapi menit demi menit terus belalu tanpa ada kemajuan, dan ibu pun akhirnya memutuskan untuk menyerah,
”Saya udah nggak kuat lagi” katanya lemah.
Dan saya pun sudah tak yakin lagi doa si ibu akan dikabulkan.
”Yah sudah, ibu sudah berusaha maksimal, doa juga sudah dilakukan..sudahlah diakhiri saja sampai disini” kata saya dalam hati.
Saya katakan pada ibu,
”Bu, sudah ya.. sekarang Ibu dioperasi saja..”
Sang Ibu pun menjawab ” Iya dok terserah, saya sudah nggak kuat lagi” jawab ibu dengan suara lirih.
”Ini Bu, ibu tanda tangan disini”, ujar saya seraya menunjukkan kepada sang ibu untuk menandatangani surat persetujuan tindakan operasi.
Sang ibu pun sambil menangis akhirnya menandatangani surat persetujuan itu.
”Yah, sekarang Ibu ke ruang operasi ya Bu..”kata saya.
”Iya dok..” kata sang Ibu, saya pun memberitahukan bidan disitu bahwa si ibu telah setuju, dan siap untuk naik ke ruang operasi.
Tiba-tiba teman saya datang dan memberitahu saya dan teman-teman dipanggil dokter pembimbing untuk bimbingan. Dan saya pun berjalan meninggalkan kamar bersalin tempat saya berjam-jam berusaha memimpin persalinan ibu itu tanpa hasil. Sambil berjalan keluar saya lihat para perawat mengganti pakaian ibu dengan baju pasien untuk operasi, lalu dari kejauhan saya melihat si ibu akan segera didorong para bidan dan perawat menggunakan brankar (tempat tidur pembawa pasien) untuk keluar kamar menuju kamar operasi. Yah akhirnya saya tinggalkan kamar itu dengan rasa sedih, karena tidak berhasil membantu sang ibu melahirkan dengan normal.
Waktu menunjukkan pukul 9 lebih sedikit ketika saya meninggalkan kamar tersebut untuk mengikuti bimbingan dokter. Perasaan saya masih melayang-layang akibat peristiwa sebelum saya dipanggil. Bimbingan terasa begitu cepat berlalu sehingga waktu kini menunjukkan pukul 09.30, bimbingan selesai dan saya pun menuju kembali ke kamar bersalin untuk melihat pasien-pasien lain.. Saya masuki kembali kamar itu dengan langkah lambat. Begitu masuk ke kamar itu, pandangan saya pun terhenti pada wajah sang ibu tadi yang kini tampak sumringah, dan tersenyum ketika saya masuk kembali ke ruangan itu. Sambil tersenyum, ia menyapa saya,
”Dok, terima kasih ya..”
Dan saya pun menjawab, ”Oh iya Bu.., udah lahir ya..?”.
” Iya dok”, jawabnya.
Saya pun segera beralih ke pasien lainnya setelah mengetahui keadaan sekilas sang ibu yang baik-baik saja. Tapi sejenak setelah saya berpaling dari si Ibu, pikiran saya bertanya-tanya,
“Kenapa begitu cepat operasi si ibu? , rasanya baru ½ jam berlalu sejak kulihat trakhir kali si ibu akan didorong ke ruang operasi, tapi kok si Ibu sudah selesai operasinya dan sudah sadar?” Pikiran saya bukan tanpa alasan, bagaimana tidak? operasi membutuhkan waktu setidaknya 30 menit, dan yang biasanya lama adalah masa pemulihan dimana si pasien masih dalam keadaan tidur akibat pembiusan, dan baru sadar kembali setelah beberapa jam setelah operasi selesai. Kepalakupun langsung menoleh kembali pada sang ibu karena penasaran, dan saya pun lalu mendekatinya dan bertanya “Kok cepat sekali Bu?"
Ibu itu pun tersenyum sambil berkata, ”Terimakasih ya dok.. tadi begitu dokter keluar, Bayi saya juga keluar..”.
“Hah!”, oo gitu Bu..?” kata saya terheran-heran….*
*the best experience during clerkship program
Minggu, 07 November 2010
Apakah Tuhan tak Mendengar Doanya?
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)





4 komentar:
:) good good pak dokter, :)
akhir cerita yang menyenangkan, setelah pas diawal saya juga ikut-ikutan meringis, hehe..
Subhanallah, Allahu Akbar, Allah memang maha Besar
Terima kasih komennya..:)
bikin deg-degan kang.
tapi memang harus yakin sama yang namanya doa ya.
Itulah ajaibnya, yang penting sungguh2..dan lihatlah apa yang akan terjadi, kata Pak Mario..:)
Poskan Komentar