Sabtu, 24 September 2011

Dear Professor..

. Sabtu, 24 September 2011

Siang itu seperti biasanya kami duduk-duduk di atas karpet mushola kantor setelah selesai sholat dzuhur berjamaah. Hari itu memang tidak seperti biasanya, karena saat itu bulan Ramadhan 1431H tepatnya tanggal 20 Agustus 2010. Selama bulan Ramadhan,  cafĂ© di kantor disulap menjadi sebuah mushola untuk sholat berjamaah, jadi setelah selesai sholat dzuhur berjamaah, kami biasa ngobrol sebelum kembali kerja.
Obrolan serius tapi santai pun menghiasi waktu aku dan seorang teman, kami sedang membicarakan topic yang sudah sangat sering menghiasi hari-hari kami sebelumnya. Adalah rencana sekolah ke luar negeri yang begitu menjadi trending topic diantara kami, maklum kami adalah 2 orang diantara beberapa orang yang tersisa di Kampus yang masih belum melangkah untuk sekolah lagi. Banyak teman-teman seangkatan yang kala itu sudah mulai sekolah spesialisasi, bahkan beberapa sudah hamper selesai. Di kampus, sekitar 5 orang kolega kami yang seumuran sudah berada di Luar negeri untuk studi PhD.



Masih teringat di kepala saya apa yang kami bicarakan waktu itu, teman saya sedang berbagi cerita tentang pertemuaannya dengan seorang senior yang baru pulang dari sekolah PhD di Jepang. Dia katakan ke saya bahwa senior itu bercerita tentang pengalamannya ketika mencari LOA (Letter of Acceptance) untuk study dari para Profesor di banyak Negara. Perlu diketahui LOA merupakan rekomendasi ataw pernyataan si Profesor bahwa ia atau institusinya akan mensupport study calon Mahasiswa yang akan belajar di tempat tersebut. Kembali pada cerita, waktu itu beliau mengirim email ke sekitar 70 Profesor di seluruh dunia antara lain ke Jepang dan Eropa. Dari sekitar 70 an, hanya sekitar 14 email yang dijawab, dan dari 14 yang dijawab, hanya 6 yang responnya positif, artinya bukan jawaban penolakan. Jadi menurutnya kirimlah sebanyak2nya, karena peluang untuk mendapat respon positif hanya sekitar 10 persen saja, makin banyak ngirim, makin banyak peluang responnya. Bukan tanpa sebab kami membicarakan hal tersebut, sudah sekitar 1 bulanan kami mengirimkan email ke beberapa professor di Luar negeri, jangankan respon negatif, Jawaban dari email kami pun tidak kami dapatkan.

Hampir putus asa dan pesimis, itulah yang saya alami saat itu. Beberapa email ke teman2 mahasiswa yang sedang study di luar yang memang tidak saya kenal sebelumnya juga tidak dibalas mungkin karena kesibukan mereka, tapi ada beberapa teman dari Indonesia yang membalas email saya dan memberikan dukungan dan tips untuk sekolah di Luar walaupun mereka tidak mengenal saya sebelumnya.

Waktu menunjukkan sekitar jam 1 siang ketika kami memutuskan untuk kembali ke ruangan masing-masing.
Sekali lagi masih terngiang-ngiang di telinga saya tentang 70an email yg dikirimkan seorang senior kami untuk mendapatkan LOA, sedangkan waktu itu, baru sekitar 5 email yang telah saya buat. Tiba-tiba saya teringat kata2 seorang Ahmad Fuadi, penulis Novel "Negeri 5 Menara" pada acara Kick Andy. Beliau merupakan salah satu orang Indonesia yang banyak mendapatkan beasiswa sekolah di Luar negeri, berikut ini kalimat yang dia katakana saat itu, “Beasiswa bukan untuk orang yang pintar, tapi untuk orang-orang yang usahanya lebih dari yang lain”. Kata-kata itu membuat saya berfikir, usaha yang saya lakukan belumlah apa-apa, saya juga bukan orang yang brillian otaknya, tapi saya masih punya kesempatan mendapatkannya asal usaha saya lebih dari orang lain. Lagi-lagi saya buka-buka halaman internet mencari-cari target Profesor mana yang akan saya kirimkan lagi sebuah email, dan akhirnya lagi-lagi mata saya tertuju pada halaman Institut Medical Microbiology, Immunology and Parasitology, sebuah institut di Jerman. Saya coba menuliskan sebuah email dengan Bahasa Inggris yang pas-pasan dan kata-kata yang saat itu terlintas di pikiran saya..

Dear Profesor XXX,
Firstly, I would like to introduce my self to you. My name is Afiat Berbudi, I am from Indonesia, I am an academic staff in Faculty of medicine Universitas Padjadjaran Bandung Indonesia. I intend to take the PhD program in Germany. I have plan to do research in parasitology field. I am interested to develop research in parasitology since my country have big problem with infectious disease. I think that I need to develop research in that field to solve the big problem of diseases caused by parasites such as malaria, and filariasis in my country.
For that reason I have plan to look for a scholarship to support my study plan there. For my study plan, I hope there is any opportunity to continue my study in Bonn university. So I would like to ask you if there are any opportunity for PhD position there?
Thank you for your time to read my email, I’m sorry if I troublesome you.
Best regards,
Afiat Berbudi
Department of Parasitology
Universitas Padjadjaran
Bandung Indonesia

Terkirim sudah email itu, email ini merupakan yang ke sekian kali saya kirim, jadi waktu saya sudah mulai terbiasa dengan email tanpa jawaban..
Sekitar setengah jam kemudian tiba2 masuk sebuah email di Inbox saya, dan ternyata itu adalah email balasan dari yg saya tulis. Dengan antusias saya membukanya, tidak peduli apa isinya, yang penting untuk pertama kalinya ada Profesor Jerman yang balas email saya. Dan tertulis sebuah email balasan..
Dear Mr Berbudi,

Thanks for your request. Before I can make up my mind, I would ask you to send a CV, so that I know more about your background.

Best regards

XXX

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Poskan Komentar

 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com