Siang itu seperti
biasanya kami duduk-duduk di atas karpet mushola kantor setelah selesai sholat
dzuhur berjamaah. Hari itu memang tidak seperti biasanya, karena saat itu bulan
Ramadhan 1431H tepatnya tanggal 20 Agustus 2010. Selama bulan Ramadhan, café di kantor disulap menjadi sebuah mushola
untuk sholat berjamaah, jadi setelah selesai sholat dzuhur berjamaah, kami
biasa ngobrol sebelum kembali kerja.
Obrolan serius tapi santai pun menghiasi
waktu aku dan seorang teman, kami sedang membicarakan topic yang sudah sangat
sering menghiasi hari-hari kami sebelumnya. Adalah rencana sekolah ke luar
negeri yang begitu menjadi trending topic
diantara kami, maklum kami adalah 2 orang diantara beberapa orang yang tersisa
di Kampus yang masih belum melangkah untuk sekolah lagi. Banyak teman-teman
seangkatan yang kala itu sudah mulai sekolah spesialisasi, bahkan beberapa
sudah hamper selesai. Di kampus, sekitar 5 orang kolega kami yang seumuran
sudah berada di Luar negeri untuk studi PhD.
Masih teringat di
kepala saya apa yang kami bicarakan waktu itu, teman saya sedang berbagi cerita
tentang pertemuaannya dengan seorang senior yang baru pulang dari sekolah PhD
di Jepang. Dia katakan ke saya bahwa senior itu bercerita tentang pengalamannya
ketika mencari LOA (Letter of Acceptance) untuk study dari para Profesor di
banyak Negara. Perlu diketahui LOA merupakan rekomendasi ataw pernyataan si
Profesor bahwa ia atau institusinya akan mensupport study calon Mahasiswa yang
akan belajar di tempat tersebut. Kembali pada cerita, waktu itu beliau mengirim
email ke sekitar 70 Profesor di seluruh dunia antara lain ke Jepang dan Eropa.
Dari sekitar 70 an, hanya sekitar 14 email yang dijawab, dan dari 14 yang
dijawab, hanya 6 yang responnya positif, artinya bukan jawaban penolakan. Jadi
menurutnya kirimlah sebanyak2nya, karena peluang untuk mendapat respon positif
hanya sekitar 10 persen saja, makin banyak ngirim, makin banyak peluang
responnya. Bukan tanpa sebab kami membicarakan hal tersebut, sudah sekitar 1
bulanan kami mengirimkan email ke beberapa professor di Luar negeri, jangankan
respon negatif, Jawaban dari email kami pun tidak kami dapatkan.
Hampir putus asa
dan pesimis, itulah yang saya alami saat itu. Beberapa email ke teman2
mahasiswa yang sedang study di luar yang memang tidak saya kenal sebelumnya juga
tidak dibalas mungkin karena kesibukan mereka, tapi ada beberapa teman dari
Indonesia yang membalas email saya dan memberikan dukungan dan tips untuk
sekolah di Luar walaupun mereka tidak mengenal saya sebelumnya.
Waktu menunjukkan
sekitar jam 1 siang ketika kami memutuskan untuk kembali ke ruangan
masing-masing.
Sekali lagi masih
terngiang-ngiang di telinga saya tentang 70an email yg dikirimkan seorang
senior kami untuk mendapatkan LOA, sedangkan waktu itu, baru sekitar 5 email
yang telah saya buat. Tiba-tiba saya teringat kata2 seorang Ahmad Fuadi,
penulis Novel "Negeri 5 Menara" pada acara Kick Andy. Beliau merupakan salah satu
orang Indonesia yang banyak mendapatkan beasiswa sekolah di Luar negeri,
berikut ini kalimat yang dia katakana saat itu, “Beasiswa bukan untuk orang
yang pintar, tapi untuk orang-orang yang usahanya lebih dari yang lain”.
Kata-kata itu membuat saya berfikir, usaha yang saya lakukan belumlah apa-apa,
saya juga bukan orang yang brillian otaknya, tapi saya masih punya kesempatan
mendapatkannya asal usaha saya lebih dari orang lain. Lagi-lagi saya buka-buka
halaman internet mencari-cari target Profesor mana yang akan saya kirimkan lagi
sebuah email, dan akhirnya lagi-lagi mata saya tertuju pada halaman Institut
Medical Microbiology, Immunology and Parasitology, sebuah institut di Jerman.
Saya coba menuliskan sebuah email dengan Bahasa Inggris yang pas-pasan dan
kata-kata yang saat itu terlintas di pikiran saya..
Dear Profesor XXX,
Firstly, I would like to introduce my self to
you. My name is Afiat Berbudi, I am from Indonesia, I am an academic staff in
Faculty of medicine Universitas Padjadjaran Bandung Indonesia. I intend to take
the PhD program in Germany. I have plan to do research in parasitology field. I
am interested to develop research in parasitology since my country have big
problem with infectious disease. I think that I need to develop research in
that field to solve the big problem of diseases caused by parasites such as
malaria, and filariasis in my country.
For that reason I have plan to look for a
scholarship to support my study plan there. For my study plan, I hope there is
any opportunity to continue my study in Bonn university. So I would like to ask
you if there are any opportunity for PhD position there?
Thank you for your time to read my email, I’m
sorry if I troublesome you.
Best regards,
Afiat Berbudi
Department of Parasitology
Universitas Padjadjaran
Bandung Indonesia
Terkirim sudah email itu, email ini merupakan yang ke sekian
kali saya kirim, jadi waktu saya sudah mulai terbiasa dengan email tanpa jawaban..
Sekitar setengah jam kemudian tiba2 masuk sebuah email di
Inbox saya, dan ternyata itu adalah email balasan dari yg saya tulis. Dengan
antusias saya membukanya, tidak peduli apa isinya, yang penting untuk pertama
kalinya ada Profesor Jerman yang balas email saya. Dan tertulis sebuah email
balasan..
Dear Mr Berbudi,
Thanks for your request. Before I can make up my mind, I would ask you to send a CV, so that I know more about your background.
Best regards
XXX
Thanks for your request. Before I can make up my mind, I would ask you to send a CV, so that I know more about your background.
Best regards
XXX





0 komentar:
Poskan Komentar