Hari ini setahun yang lalu..Waktu di HP saya menunjukkan pukul 9 ketika saya memasuki kawasan gedung DIKTI senayan Jakarta. Lima menit kemudian sampailah saya di Lantai 5 gedung tersebut, tempat wawancara seleksi penerima beasiswa DAAD akan berlangsung. Segera saya hampiri sebuah meja penerima tamu dimana 2 orang wanita berdiri di belakangnya. Setelah tanda-tangan daftar absen, saya pun bertanya, " Berapa orang Bu yang akan diwawancara?" ,serta merta Ibu itu menjawab," 49 orang Pak", Rasa penasaran menyebabkan saya kembali bertanya, " Terus berapa orang Bu yang akan diterima?". Ibu itu pun menjawab diplomatis, "Tahun lalu 22 orang yang berangkat Pak". Sejenak saya memandangi keadaan sekitar, dimana para kandidat yang lain sedang menunggu gilirannya untuk diwawancara. Selanjutnya, kursi di pojok ruangan menjadi pilihan saya menunggu giliran. Rupanya pada hari itu terdapat 3 buah ruangan yang digunakan untuk wawancara, masing-masing untuk ilmu sosial ekonomi, Tekhnik, dan Biologi. Kebetulan kursi yang saya duduki terletak di depan pintu ruang wawancara untuk Ilmu sosial ekonomi.
Lalu lalang kandidat yang keluar masuk memungkinkan saya dapat melihat sekilas seperti apa situasi di dalamnya. Apa yang saya lihat mungkin tidak aneh kalau saya berada di ruang Pengadilan negeri. Dari sela pintu yang hampir tertutup saya melihat rangkaian meja panjang, dimana di belakangnya duduk sekitar 5 orang Interviewer yang hampir semuanya orang bule, dan beberapa meter di depan mereka duduk seorang peserta seleksi penerima beasiswa, persis seperti seorang terdakwa yang sedang diadili. Sama sekali tidak seperti wawancara lowongan kerja di film-film. Sambil menunggu, saya baca lembaran email hasil korespondensi saya dengan calon supervisor di Jerman, mungkin sedikit banyak akan membantu saya menghadapi pertanyaan-pertanyaan Interviewer, pikir saya waktu itu. Sesekali saya ngobrol dengan seorang peserta lain yang juga sedang menunggu gilirannya. Kebetulan yang duduk disebelah saya waktu itu sudah punya pengalaman wawancara DAAD, dia bercerita, tahun lalu juga ikut dipanggil wawancara, tapi sayangnya dia tidak termasuk orang-orang yang berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Ceritanya pun membuat saya was-was karena ternyata mendapatkan rekomendasi dari Professor belum berarti sudah aman, tahun lalu dia dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan sulit dan menjatuhkan, hingga akhirnya ia pun harus mengulangi lagi usahanya ditahun ini. Dia katakan pada saya bahwa ia harus melobi sang Profesor untuk tetap bersedia memberikan dukungannya pada seleksi tahun ini. ------------------------------------------------------------------------
Pukul 10.30, tibalah giliran saya yang dipanggil. Dari dalam ruang wawancara itu keluar seorang wanita bule, setengah baya. Rupanya ia adalah sekretaris DAAD (Deutscher Akademischer Austausch Dienst), sebuah organisasi di Jerman yang akan memberikan beasiswa. Sambil tersenyum ramah, ia menyapa saya dan mempersilahkan saya masuk. Segera saya langkahkan kaki masuk sambil melihat ke dalam ruangan. Rupanya keadaan tempat saya diwawancara tidak sama dengan ruangan yg telah saya lihat sebelumnya, tapi juga tidak jauh berbeda. Disana telah menunggu 3 orang Interviewer, 2 diantaranya orang bule Jerman, sedangkan seorang lagi berasal dari Indonesia. Mereka duduk di belakang meja berbentuk L. Sedangkan di belakang meja sebelah kanan saya duduk wanita Jerman perwakilan DAAD. "Okay, Mr Berbudi, I will introduce Interviewers here, Firstly, Prof Wolfgang...from... Germany, the second, Dr.... from....Germany, and the last is Dr.. from DAAD alumni from ITB. ..kata nya membuka acara. And please introduce yourself.. sambil menatap saya. untuk pertama kalinya seumur hidup, saya diwawancara oleh orang Bule. Hal itu membuat saya dag dig dug.. Tapi saya coba untuk pede memperkenalkan diri saya, My name is Afiat from Bandung, I am a medical doctor and staf in Padjadjaran University Bandung. I work in Department of Parasitology Faculty of Medicine, bla..bla..bla.. That's all, kata saya mengekhiri perkenalan.
Dan tibalah saat yang menegangkan dimana satu persatu Interviewer dipersilahkan bertanya pada saya. Giliran pertama diberikan pada Profesor Wolfgang. Ketika dia mulai berbicara, saya perhatikan dengan seksama dengan mata bahkan tubuh saya pun tanpa terasa condong ke depan. Bukan karena saya sangat antusias mendengarkan pertanyaannya, melainkan karena saya tidak dapat menangkap apa yang beliau tanyakan. Saya seperti hanya mendengar suara2 kumur-kumur yang sepertinya bahasa Inggris tapi dengan aksen lain. Jangankan menjawab, mengerti pertanyaannya saja tidak. Jujur yang terlintas di pikiran saya waktu itu adalah "Jerman tingal kenangan", karena ketidakfahaman saya. "Diam itu emas" kata peribahasa, tapi untuk sebuah ujian, diam adalah mati. Akhirnya saya jawab sesuka saya layaknya nembak dalam ujian. Tidak puas dengan jawaban saya, beliaupun mengulangi pertanyaannya beberapa kali sampai akhirnya jawaban sy sepertinya tepat sasaran. Lanjutlah ia ke pertanyaan selanjutnya yang kali ini terdengar sedikit lebih jelas, kira2 begini bunyinya,"Worm is agent of infection, but in your research plan, you will use worms for diabetes treatment, do you want to treat the disease with cause the new disease? The diabetes will be cured, but the patient will suffer from worm Infection", katanya sambil tertawa seperti meledek, yang disambut pula dengan tawa interviewer yang lain. Tawa mereka walaupun terkesan meledek sungguh merubah suasana menegangkan menjadi lebih santai, terlepas dari apakah itu mentertawakan saya atau tidak, yang penting saya bisa lebih relax. " No, I dont want to use living worm to treat DM, I will make experiment to test if the worm infection will protect mice from DM. If the test suggest that infection have protective effect, I will continue with make the antigen of Worm, and then test if that's antigent have the same protective effect or not. That's target from my research." Sepertinya beliau tidak menangkap apa yang saya maksudkan, mungkin karena beliau bukan seorang dokter, jadi agak tidak setuju dengan pendapat saya. "Ya, enough from me", dengar kata2 itu membuat saya sedikit lega.
Tiba saatnya pertanyaan dari Interviewer ke 2, seorang bule Jerman wanita tua yang bergelar Doktor. Ia mulai memegang lembaran berkas aplikasi saya, dan mulailah ia bertanya. Pertanyaan pertama lagi2 membuat saya pesimis karena persis seperti yang pertama, saya gak ngerti apa yang dia tanya, tapi untungnya jawaban saya tidak meleset2 amat. Dia tanya tentang apa yang saya harapkan dari PhD di Jerman. "Germany has high quality education, I think if I can study there that will be a benefit for my country. As a Tropical country, Indonesia has big problem with infection disease, and also with Diabetes mellitus. I hope I can use my experience there to solve my country's problem, I want to contribute in the problem solving", kira-kira seperti itulah jawaban saya (idealis mode on). Oke, pertanyaan selanjutnya, beliau lalu kembali melihat-lihat berkas aplikasi saya, dan tampaknya ia tertarik pada sebuah bagian, dan sambil tersenyum ia berkata. "here you wrote that's your hobby is bussiness, what do you mean? do you want to study PhD in medicine, don't you? Pertanyaan itu rupanya mengundang 2 orang interviewer lainnya serta seorang perwakilan DAAD kembali tertawa dan menimpali ,"May be after you finished your PhD, you will sell worms as a drug for Diebetes?" yang semakin membuat semua orang tertawa terbahak-bahak. Ahh..tidak ada yang saya sesali dengan tulisan bisnis sebagai my hobby, saya hanya menuliskan hoby saya apa adanya, memang itu, tapi tidak pernah terfikir bahwa ini akan menjadi salah satu pertanyaan yang dan dibahas dan membuat mereka tertawa. Sambil tersenyum saya hanya katakan, "ya, that's my hobby, just hobby. Business is interesting, I have online shop, I sell medical equipment." yang lagi-lagi disambut dengan tertawaan.
Bagian terakhir, kesempatan bertanya diberikan pada salah satu alumni DAAD dari ITB. Tidak seperti pertanyaan 2 orang sebelumnya, kali ini pertanyaannya terdengar sangat jelas, bukan karena ia pakai bahasa Indonesia, tapi karena aksen bahasa Inggrisnya lebih familiar. Pertanyaannya berkisar tentang seberapa sering saya melakukan korespondensi dengan Professor calon supervisor saya di Jerman, juga tentang tujuan dan tehnik penelitian. Diakhir sesinya ia menanyakan, "Can you speak German?" dan saya jawab, "ya, I take German course in Goethe Institute Bandung". "ok, Sprechen Sie Deutsch bitte !" ("Ok, Silahkan anda ngomong Jerman!"). "Ok, but just for introducing my self" jawab saya. "Ja bitte,"("ya, silahkan!") katanya mempersilahkan. Sejenak saya berfikir apa yang harus saya katakan, saya memang pernah kursus, tapi sudah 2 bulan sudah berhenti. Dan mulailah saya berkata, "Ich bin Afiat Berbudi, ich komme aus Bandung, aber ich wohne in Radio Dalam Jakarta" ("Nama saya Afiat Berbudi, asal dari Bandung, tapi tinggal di Radio Dalam Jakarta"), saat itu semuanya memperhatikan saya sambil tersenyum. saya pun lanjutkan ."Ich bin Arzt, und ich arbeite als staf in Department Parasitology Medical Faculty Universitaet Padjadjaran" ("Saya Dokter, dan saya kerja sebagai dosen di Departemen Parasitologi FK UNPAD"). Dan saya pun tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan, Suasana hening, tampaknya semua Interviewer saat itu seperti menunggu apa lagi yang akan keluar dari mulut saya sampai akhirnya saya tutup dengan "that's All. I think enough". Dan sang alumni pun mengisyaratkan saya untuk bicara lebih banyak lagi, "Bitte" ("silahkan lanjutkan ngomongnya!") katanya. Sayang, saya tidak tau harus berkata apa lagi, dan saya pun hanya berkata, "I am sorry, I had just take Deutsch kurs, my level is A.1.1" Dan mereka pun hanya tersenyum. "coba kalo tau bakal disuruh ngomong jerman, saya pasti akan belajar sebelumnya dan akan ngomong lebih banyak lagi",pikir saya waktu itu. Belakangan saya tau, tidak satupun penerima beasiswa yang saya tanya, dipersilahkan ngomong bahasa jerman ketika wawancara.
Akhirnya semua Interviewer selesai bertanya, dan tiba giliran seorang perwakilan DAAD dari Jerman yang bertanya. Alhamdulillah, mungkin karena waktu sudah habis, ia tidak bertanya apapun dan hanya menutup sesi wawancara tersebut. Saya berdiri dan hampiri satu persatu dari mereka, sambil bersalaman saya ucapkan, "Danke!", "Vielen Danke!"," Danke schoen!" ("Terima kasih"), dan akhirnya "Auf wieder sehen!" ("sampai jumpa lagi"). sambil meninggalkan ruangan. Setidaknya itulah kata-kata tambahan dalam bahasa Jerman yang saya bisa, selain yang tadi saya katakan dalam wawancara. Lega rasanya setelah menyelesaikan "sidang pengadilan" yang penuh dengan tawa. Apakah mereka mentertawakan saya ataukah mereka tertawa karena senang mewawancarai saya, waktulah yang akan menjawabnya.
http://afiat-sehatwalafiat.blogspot.com
Minggu, 13 November 2011
In the Interview room
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)





5 komentar:
gimana dgn hasilnya pak?
Alhamdulillah sekarang dah di Deutschland:)
Halo Pak Afiat. Senang membaca sharenya.. Paling tidak memberikan gambaran bagaimana suasana wawancara DAAD.
Perkenalkan Nama saya Tien, saya mau nanya nih tentang wawancara. Apa saat wawancara, kita bakalan diwawancarai dengan orang-orang satu ilmu dengan kita?
Dan walaupun kita sudah punya calon supervisor, tetapi ada kemungkinan aplikasi beasiswa kita tidak diterima ya? Alasan kenapa ya?
Saya senin depan, ada panggilan wawancara dan ilmu saya dari computer science/soft. engineering.
Sekarang saya saja masih bertanya-tanya kira-kira pertanyaan-pertanyaan apa yang ditanyakan mereka.
Salam kenal juga mbak Tien,
Pertama saya ucapkan Selamat sudah dipanggil wawancara. Setau saya tahun lalu semua kandidat yang diundang wawancara hanya yang sudah dapat supervisor di Jerman. Beberapa teman saya tidak dipanggil karena belum dapat supervisor. taun lalu sekitar 49 org yg dipanggil, dan hanya 16 yang akhirnya berangkat, jadi supervisor bukan jaminan untuk lulus, karena pengalaman teman sy di tulisan diatas seperti itu.Quota dr DAAD terbatas, jadi nggak semuanya akan lulus seleksi, itu tergantung dr penilaian mereka. Saat wawancara cm ada 3 kelompok, Kelompok 1: ilmu ekonomi dengan ilmu lain yang berbau sosial politik, bahasa, Kelompok 2: teknik mesin, elektro, fisika, komputer dsb, Yang terakhir kelompok 3: ilmu biologi, kimia, farmasi, dan kedokteran. jumlah interviewer 2-4, dari Jerman dan + 1 dr Indonesia + 1 dr DAAD. Interviewer tidak harus satu ilmu dengan yg diwawancarai, tapi biasanya masih 1 kelompok ilmu sperti diatas.
Kl pengalaman saya yang ditanya seputar research plan kita, apa tujuan dan manfaatnya, apa yang akan dihasilkan dr penelitian itu, sekilas ttg metode penelitian. Terus yang standar, ttg kenapa pilih jerman sbg tujuan, dan apa manfaatnya untuk Indonesia.
Oke deh, Semoga sukses ya..!!
Ok. Terima kasih banyak ya. Sukses juga buat studinya :)
Poskan Komentar